Quote

Angkringan adalah sebuah fenomena yang hadir di hampir seluruh penjuru kota Yogyakarta, bahkan hampir menggeser posisi gudeg yang menjadi ciri khas kota ini. Di sepanjang jalan baik jalan utama maupun perumahan, hampir selalu kita temui angkringan yang terdiri dari gerobak kayu non-permanen, bangku panjang kayu, lampu senthir (=lampu minyak), terpal penutup, aneka ragam gorengan, dan hidangan lainnya.

Sebagian besar bentuk gerobak angkringan yang terlihat di sana-sini memiliki bentuk, asesoris, serta warna yang nyaris sama.  Bahkan warna terpalnya pun terkadang sama, yaitu biru. Sangat khas. Saya tidak tahu apakah ini faktor kesengajaan, atau hanya kebetulan belaka.

Namun berbeda dengan angkringan yang ada di sebelah Stasiun Tugu ini. Di sini terdapat beberapa gerobak angkringan yang saling berdekatan dan berjajar di sepanjang jalan Wongsodirjan. Beberapa meja dan bangku panjang yang terbuat dari kayu disediakan di setiap kedai, sedangkan penjual angkringannya sendiri duduk di bangku kecil dengan dikelilingi barang dagangannya. Untuk yang ingin lesehan, disediakan juga tikar yang digelar di emper jalan di seberangnya.

Mau?

Berbagai macam makanan dan minuman dijual di sini dari mulai gorengan, sate, nasi kucing, ketan bakar, hingga minuman tape ketan, teh, dan…nha, ini…kopi joss. Kopi joss sendiri disebut demikian dikarenakan kopi tubruk yang dihidangkan panas-panas tersebut diberi arang yang masih membara, sehingga seolah mengeluarkan suara “joss..”.  Pembuatannya sangatlah sederhana, yaitu dengan mencampurkan air mendidih ke dalam gelas yang berisi kopi hitam dan gula, lalu diaduk sebentar. Kemudian masukkan 1 batang arang yang membara ke dalam segelas kopi tersebut, dan dihidangkan. Konon, arang yang membara tersebut dapat menyembuhkan masuk angin dan menghangatkan tubuh. Namun jangan lupa, sebelum meminum kopi tubruk ini, arang yang ada di dalam gelas harus dibuang terlebih dahulu karena dikhawatirkan kandungan karbon yang berlebihan justru akan mengakibatkan kanker. Untuk segelas kopi joss  harganya adalah Rp.2.000,-.

SATE & KOPI? MAKNYUSS!

Yang paling seru dari angkringan ini adalah kentalnya suasana Yogyakarta apalagi ditambah dengan hidangan yang disediakan di sana. Sate telur puyuh, sate usus ayam, sate kikil sapi, sate kerang, sate ati-ampela, tahu dan tempe bacem, ketan bakar, peyek, serta tidak ketinggalan, nasi kucing. Nasi kucing ini bukan nasi yang dihidangkan untuk memberi makan seekor kucing. Karena porsinya yang kecil seperti memberi makan seekor kucing inilah yang menyebabkan orang menyebutnya nasi kucing. Yang umum ditemui di dalam sebungkus nasi kucing adalah oseng tempe, sambal, dan nasi putih. Sangat irit, bukan? Nasi yang dibungkus dengan menggunakan daun pisang ini memang sangat digemari baik oleh penduduk setempat maupun wisatawan yang datang ke kota ini. Harga sebungkus nasi kucing di Angkringan Kopi Joss ini adalah Rp.1.000,- sedangkan untuk gorengan dan sate harganya berkisar antara Rp.1.000 – Rp.1.500,- kecuali sate puyuh yang harganya mencapai Rp.2.000.- per tusuknya.

ANGKRINGAN KOPI JOSS

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s