Quote

Begitu sampai di sebuah pulau di selatan Thailand ini, suasananya sudah berasa beda. Suasana liburan! Apalagi dari tadi sebelum berangkat dari KLIA (Kuala Lumpur International Airport), suasana di airport sudah heboh dengan para pelancong yang tingkahnya aneh-aneh. Bajunya saja sudah kostum pantai semua. Celana pendek cargo, kaos singlet, kemeja hawaii, dan sendal jepit. Wah. Cewek-ceweknya juga tidak kalah heboh dandanannya. Semuanya kostum santai ala pantai. Tampang-tampangnya pun pada sumringah. Begitu masuk ke pesawat tingkahnya lebih aneh-aneh lagi. Entah karena sudah tidak sabaran pengen menikmati liburan di Phuket atau karena sudah tipsy. Habis, mimik dan warna muka mereka  sudah agak aneh. Cuman, mereka masih tertib dan sopan-sopan koq. Tidak norak.

Yang seru tuh pas ada pramugari yang maju mau peragaan langkah-langkah penyelamatan dalam pesawat. Belum pernah kan ada yang tepuk tangan saat peragaan usai? Semua orang di pesawat ketawa. Apalagi begitu pilot mengumumkan bentar lagi sampai, duh heboh semua. Bener-bener suasana pesawat yang lain dari pada yang lain. Biasanya kan kalau di pesawat, mukanya tegang semua, ada yang komat-kamit baca doa, ada yang pura-pura tidur karena takut kelihatan tegang. Belum lagi ada suara anak kecil nangis. Atau malah orang tua yang cerewet memarahi anaknya karena mondar-mandir ke toilet. Kehebohan yang bener-bener beda.

Peta Phuket

Phuket memang memberi kesan tersendiri. Siapa yang tidak kenal Phuket, coba? Pulau yang konon mirip Bali di beberapa segi ini sama-sama punya keindahan dan keeksotisan yang luar biasa. Banyak pelancong dari berbagai negara yang tertarik dateng ke sini karena pengen menikmati semua itu. Biarpun beberapa tahun yang lalu Phuket sempet dihantam badai Tsunami dan banyak korban jiwa yang berjatuhan terutama dari wisman yang sedang menikmati liburan di sana, tapi tetap tidak bikin Phuket sepi dari pengunjung. Keren.

Apa saja siy yang ada di Phuket sampai sebegitu terkenalnya? Pertama, pantainya. Kedua, suasana. Ketiga, makanan. Nha, ketiga faktor ini yang bikin penasaran banyak orang. Dan sekali dateng, tidak bakal bikin lupa malah bikin ketagihan.

Phuket ini pulau terbesar di Thailand yang dikelilingi oleh pantai-pantai teriindahnya, seperti Patong, Kamala, Karon, Chalong Bay, Kata, dan masih banyak lagi. Pulau-pulau di sekeliling Phuket juga punya keindahan yang tidak kalah terkenalnya sampai banyak produser yang tertarik bikin film di sini. Phi Phi Island, contohnya. Pulau ini dijadikan setting filem yang dibintangi Leonardo Dicaprio “The Beach”. Terus ada lagi Phang Nga Bay tempat setting filemnya James Bond “Man with the Golden Gun”, dan sekarang malah lebih terkenal dengan nama Pulau James Bond.

Sebelum saya cerita tentang bagaimana di Phuket, saya ceritakan dulu ya perjalanan kami dari Bandara Phuket ke hotel tempat saya menginap. Bandara di Phuket ini tidak lebih besar dari Bandara Soetta, boleh dibilang jauh lebih kecil malah. Tapi bersih dan cukup nyaman. Begitu sampai di lobby depan, banyak calo taksi yang berjejer menyambut para turis yang baru tiba. Pemandangan yang biasa terlihat di International Arrival Gate manapun. Buat yang baru pertama kali datang ke sini, pasti merasa bingung atau mungkin panik. Saran saya, mendingan beli tiket transportasinya di dalem lobby bandara deh, yang sudah jelas ada kantornya, bisa pilih kendaraannya seperti apa, dan ada harganya, ketimbang taksi-taksi liar yang ada di parkiran luar. Ongkosnya sekitar 350 baht atao 100-200 ribu perak per orang dari bandara ke hotel di daerah Patong. Patong di mana? Yaa nanti saya jelaskan lebih lanjut lagi. Kita bisa memilih taksinya mau sedan atau minibus. Harganya pasti lebih mahal naik taksi lah. Tapi kan jadi tidak berhenti-berhenti dulu atau mampir ke beberapa tempat untuk mengantar penumpang lain. Lebih cepat sampai di hotel, dan lebih ada privasinya. Tergantung kebutuhan sih. Kami waktu itu memilih naik minibus bersama beberapa penumpang lain, selain karena lebih murah juga karena baru sekali ini datang ke Phuket, jadi biar lebih aman aja.

Di tengah perjalanan, minibus sempat mampir ke sebuah rumah. Kami semua sempet terheran-heran. Tak lama sopirnya membuka pintu penumpang dan bilang, “silakan mampir dulu” dengan menggunakan bahasa Inggris yang kental dengan aksen Thai-nya. Karena penasaran, saya pun keluar mobil dan masuk ke rumah tersebut yang ternyata kantor Travel Agent. Di sana kami ditawari beberapa paket wisata di Phuket. Harga paketnya macam-macam, berkisar antara 1500 – 4500 Baht per orang tergantung dari tempat-tempat wisata yang dikunjungi dan fasilitas yang dikasih. Saya ragu-ragu untuk beli paketnya karena saya masih belum tahu daerah sekitar situ. Melihat saya ragu-ragu, salah satu agent memberi saya kartu namanya in case saya nanti tertarik dengan paket yang dia tawarkan. Setelah berusaha sekuat tenaga menolak tawaran-tawaran dari para agent yang gigih itu, akhirnya saya berhasil juga keluar dari situ, dan cepat-cepat ngacir masuk mobil. Fiuh!

Kurang lebih 45 menit kemudian, mobil yang kami tumpangi masuk ke kawasan wisata bernama Patong. Satu per satu penumpangnya turun, yang sebagian besar ternyata stay di hotel-hotel backpacker. Hmm, daerah ini mirip Poppies di Bali. Banyak tempat penginapan murah buat para backpacker, dan juga kreseker. Eh kalau kreseker kan tidak menginap di hotel ya? Di mesjid-mesjid, emper bandara, atau mana saja, yang penting gratisan. Tidak lama kemudian, kami pun tiba di hotel yang sudah kami pesan on-line, yaitu Patong Pearl Resotel, alamat lengkapnya 13 Sawatdirak Road Patong, Phuket, Thailand 83150. Touch down! Wah, ternyata hotelnya bagus. Maksud saya, untuk harga promosi 700 baht atao 210 ribu per malam, hotel itu bener-bener representatif lah. Dan pas saya lihat ke sekeliling, ternyata pantainya sangat dekat. Ada di ujung jalan, sekitar 100 meter dari tempat saya berdiri atau sekitar 5 menit dengan berjalan kaki. Mantap!

 

Sebenarnya kami baru boleh cek-in besok siang sesuai reservasi. Tadinya kami berencana untuk tidur di bandara Phuket saja karena kita juga tiba di sana sudah sangat larut, yaitu jam 11 malam. Sayang juga kan kalau mesti membayar kamar lagi (typical kreseker!). Tapi ternyata hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan, karena bandara tutup setelah penerbangan terakhir, yaitu penerbangan kami. Jadi ya mau tidak mau, kami berangkat ke hotel malam itu juga. Setibanya di hotel, kami diberitahu oleh respsionis bahwa semua kamar untuk malam itu sudah full. Tidak ada pilihan lain, kami pun berencana titip tas di hotel dan jalan mencari hotel atau menghabiskan waktu di luar. Ternyata hotel ini juga tidak menyediakan tempat penitipan tas. Ah. Dan apesnya lagi, turun hujan besar. Jadi, mau tidak mau kami menunggu di lobby hotel. Lapar dan mengantuk. Hampir jam 2 malam, seorang resepsionis mendekati kami dan bilang bahwa ada 1 kamar kosong buat kami di Deluxe Room. Dia memberi kami kamar tersebut dengan harga yang sebelumnya kami dapatkan dari on-line reservation, yaitu 700 Baht! Wah, thanks GOD! Dan kami boleh langsung check-in, tapi besoknya kami diminta pindah ke Standard Room karena kan kami memang pesannya kamar dengan type itu. It’s OK lah. Hotelnya bagus, bersih, eksotis. Pas masuk kamar, kami lebih takjub lagi. Ternyata kamarnya besar dan sangat nyaman. Oh, senangnyaa. Saking senangnya kami joged-joged kegirangan di dalam kamar. Hahaha. Tak lama, capek juga ternyata. Sehabis mandi, mata terasa berat juga. Kami pun tertidur. Sekalian menyimpan tenaga buat besok jalan-jalan, ceritanya.

Besoknya, bangun pagi langsung semangat jalan ke restoran di hotel itu, sarapan time! Hmm…bau wangi sosis dan telor goreng bikin perut tambah keroncongan. Menu makanannya super! Ada sosis, bacon, baked beans, nasi goreng thai, roti, croissant, puding, buah-buahan, juice, telor yang boleh dipesan dgn berbagai gaya. Hajjaaar, sebelum perut tambah berontak. Saya pertama bingung kenapa ada beberapa lebah yang terbang berseliweran di sekitar buah-buahan, jus, dan selai buah yang dihidangkan di meja. Ya, lebah kan hanya tertarik oleh rasa manis alami buah-buahan atau bunga. Jadi, buah-buahan, jus dan selai buah di sana tidak ada campuran bahan kimiawi atao gula sama sekali. Semua manisnya alami. Orange Juicenya juga asli jeruk peras, tanpa campuran air atao gula. Jadi bukan air rasa jeruk lho. Asli air jeruk, dan manis. Segar lagi. Selainya doonk…duh mantab deh pokoknya. Benar-benar asli buah-buahan yang dilembutkan tanpa dikasih gula apalagi pengawet. Natural. Thailand kan terkenal dengan hasil buminya yang memang bikin perut puas, dari beras, seafood, sampai buah-buahannya. Pingin rasanya berlama-lama breakfast di situ, saking enaknya.

Setelah cukup puas menghabiskan jatah tamu di situ, kami pun memutuskan berkelana ala bang rhoma. Melihat apa saja yang ada di situ, mumpung cuacanya cerah dan enak buat jalan. Di kiri kanan jalan Sawatdirak ini banyak hotel, bar, resto, tempat pijat, dan tempat bikin tattoo. Di sepanjang jalan ini banyak perempuan yang berjejer sambil menawarkan sesuatu yang saya kurang faham pada awalnya, karena terlalu kental dengan aksen Thailand-nya yang sengau. Lama-lama saya perhatikan, oo ternyata mereka ngomong “massage maddaamm…” Saya kira ngomong apa. Lucu juga dengarnya. Nha,begitu tiba di ujung jalan, mulai terlihat tuh pantai yang terkenal ke seantero jagad raya alam semesta. Ladies & Gentlemen, may I present to you, the one and only…. Patong Beach. Keren sekali. Pasirnya putih dan lembut, garis pantainya luas, bersih, dan ombaknya juga tidak terlalu besar. Jadi bisa buat berenang dan bermain pasir. Tidak berapa lama, turun hujan yang lumayan deras. Wah, kami langsung panik deh berlarian mencari tempat berteduh. Tetapi 20 menit kemudian, hujannya mereda. Lanjut jalaann.

Tidak cuman pemandangan indah yang bisa dinikmati di sini, tapi juga makanannya. Di Phuket ini terkenal banget sama makanan seafood dan kuah-kuah pedas khas Thai yang berbahan dasar seafood, seperti Tom Yum Goong. Hmm…buat yang doyan hunting kuliner, di Thailand ini memang terkenal dengan keanekaragaman jenis makanannya. Dari yang “wajar”, hingga yang ekstrim seperti serangga, burung buas dan liar, sampai binatang sejenis tikus pun dimasak dan dijual di sana. Berani menerima tantangan? Sayangnya, makanan yang ekstrim tersebut tidak saya temukan di Phuket, tetapi ada di kota-kota lain seperti Bangkok dan Pattaya. Ya sudahlah untuk sementara, saya makan yang wajar-wajar dulu saja kali yaa. Seperti Tom Yum Goong ini. Penasaran sama rasa keaslian masakannya, kami pun masuk ke salah satu restoran yang ternyata pemiliknya bisa berbahasa Indonesia. Kami pikir tadinya orang Timur Tengah karena wajah dan postur tubuhnya tinggi besar seperti orang Timur Tengah pada umumnya. Setelah berbasi dengan sang pemilik restoran yang memang ramah tersebut, kami pun mulai memesan makanan yang terdiri dari Tom Yum Goong beserta Cumi Mayo. Ternyata porsinya lumayan besar juga. Biarpun harganya sedikit lebih tinggi dari harga umumnya di Jakarta, tapi worth it koq. Nasi 3 porsi, Tom Yum semangkok besar, Cumi Mayo sepiring besar, dan 2 macam minuman, harganya sekitar 200 ribu. Porsi banyak, rasa enak. Lazziss…

Setelah puas, kami melanjutkan acara jalan-jalan di kawasan Patong ini. Aduh, tidak lama turun hujan lagi. Padahal tadi cuacanya cerah banget lho. Ternyata curah hujan di kawasan ini memang sangat tinggi, dan tidak menentu. Kami pun berjalan mepet ke teras pertokoan untuk menghindari hujan. Pantes saja sedari tadi kami bertemu beberapa turis di jalan dengan memakai jas hujan dari plastik seperti kantong kresek. Sempat menertawakan karena cuaca cukup cerah saat itu. Namun ternyata koq kami malah jadi kepingin membeli juga. Hehehe. Soalnya kalau memakai payung, agak riskan juga. Secara ini kan kawasan padat pengunjung. Takutnya nanti ada yang tercocok ujung payung. Karena sudah tanggung basah oleh keringat dan hujan, kami memutuskan untuk tidak jadi membeli jas hujan itu.

Yang bikin saya betah di Phuket ini adalah pemandangannya yang sangat eksotis. Di sana-sini saya melihat begitu banyak mahluk-mahluk menggiurkan yang saya kenal dengan nama lobster, kepiting, cumi, dan teman-temannya yang sedang tergeletak tak berdaya di papan etalase. Bikin ngiler karena semuanya masih terlihat segar dan berisi. Beugh.

Nah, buat yang demen belanja, pasti seneng ke Patong, soalnya banyak toko…mm…lebih mirip pasar sih, yang jual macem-macem souvenir kayak baju, kaos, asesoris, scarf, dan merchandise lain buat oleh-oleh. Di sini harus jago menawar, karena harga yang ditawarkan lebih tinggi dari harga barang di Tanah Abang, biarpun barangnya kurang lebih sama. Nha, yang agak aneh, para penjual di sini memilih pembeli berdasarkan warna kulit, bukan berdasarkan isi dompetnya. Apalagi yang bersendal jepit, dan bercelana pendek seperti kami, apalagi dengan baju yang masih agak basah oleh hujan. Ternyata hampir semua penjual seperti itu. Entah kenapa. Tadinya kami disangka turis dari Singapore atao Malaysia. Tapi begitu tahu kami dari Indonesia, ada salah satu penjual yang mendekati kami dan bicara, “Sini, sini, saya kasih harga murah buat orang Indonesia. Kita kan sama-sama miskin.” Jiaahhh…

Setelah akhirnya membeli beberapa souvenir untuk oleh-oleh, kami melanjutkan perjalanan. Di tengah jalan kami melihat beberapa orang yang sedang menenteng tas plastik bertuliskan Carrefour.  Wah, ternyata di sini ada Carrefour-nya juga tho.  Setelah bertanya ke orang-orang tersebut di mana letaknya, langsung saja kami tancap gas ke super market ini. Biassaa, studi banding. Ah ternyata di Patong ini juga terdapat Mall yang lumayan besar dan bagus, dengan dekorasi dan interior ala La Piazza Gading. Cuma, bedanya ini kan Mall di pinggir pantai. Jadi, kostum dan tingkah laku pengunjungnya pun terlihat lebih santai.

Wah di sini Carrefour-nya seruuu…mahluk-mahluk yang menggiurkan tadi bejejer juga di sini, dan jauuuuhh lebih murah harganya. Minta dimasakkan apa saja boleehh…maksudnya bakar, goreng, panggang, steam. Yang seru di sini adalah, jenis seafoodnya lebih variatif dan ukurannya juga lebih montok-montok. Harganya juga jauh lebih murah dari restoran-restoran di luar sana tadi. Kamipun dengan “panik”nya langsung memborong beberapa jenis makanan untuk dimakan di kamar hotel. Setelah puas jalan dan hari sudah cukup larut juga, kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Kali ini, karena kaki sudah pegal dan capek, kami pun naik angkot yang disebut Tuk Tuk.

Besoknya, setelah puas menyantap sarapan dengan menu yang agak berbeda dari hari pertama namun tetap tidak kalah lezatnya, kami pun memutuskan untuk berenang di kolam renang yang ada di hotel Patong Pearl ini. Berasa di rumah sendiri lho, soalnya yang berenang hanya kami berdua. Tamu-tamu yang menginap di situ entah pada kemana. Begitu sore, setelah puas berenang dan mulai agak-agak lapar, kami pun jalan-jalan lagi, kali ini ke arah Bangla Road. Di sini banyak bar dan pub, dan suasananya sedikit berbeda dengan kawasan lainnya di Patong. orang terlihat begitu menikmati suasana dan hidangan-hidangan yang ada di sana kayak steak, burger, pizza, dan lain-lain. Bau masakan dan minuman keras begitu kental terasa. Semakin larut di daerah Bangla ini, semakin heboh suasananya. Live music dan musik disko terdengar bak gayung bersambut. Jadi, kita tidak perlu masuk ke dalam bar/pub-nya yang rata-rata terbuka, sehingga kita bisa langsung menikmati lagu atau pertunjukan yang dipertontonkan. Hmmm..seru..seru. Setelah di atas jam 7 malam gitu, jalanan di sepanjang jalan Bangla ini tertutup buat kendaraan bermotor. Khusus buat pejalan kaki. Ini yang paling seru. Banyak tingkah para wisman di sini yang menjadi hiburan tersendiri. Mereka begitu bebas menjadi diri sendiri, joged-joged di tengah jalan, bernyanyi-nyangi mengikuti lagu yang terdengar kencang dari pub sebelah, atau membuat gaya-gaya aneh. Bebas melakukan apapun yang mereka mau, tanpa ada diskriminasi atao prejudice yang biasa ditemui di dunia luar. Benar-benar sangat nyaman di sini. Di kiri-kanan juga banyak terlihat orang jualan jajanan, dari juhi bakar, nachos, jajanan pasar, sampai rujak buah. Semuanya ada, dan enak-enak. Sempurna. Malam itu kami habiskan dengan nongkrong-nongkrong di sebuah bar sambil melihat tingkah laku orang-orang yang berseliweran di jalanan. Semakin malam semakin seru pemandangannya.

Setelah kenyang dan mengantuk, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. Begitu tiba di hotel, kami bertanya terlebih dulu ke resepsionis yang sedang berjaga tentang paket tour ke Phi Phi Island dan James Bond Island. Setelah puas dengan penjelasannya, kami pun membeli paket yang seharga 1500 Baht per orang, dan berangkat besok pagi jam 7. Dan petugas resepsionis ini juga bilang bahwa mereka akan menyiapkan paket sarapan buat kami bawa tour. Asiiik.

Keesokan paginya, kami dijemput di hotel tepat pukul 7 pagi. Sambil masih mengantuk karena baru bisa tidur pukul 3 pagi, kami pun berangkat naik minibis yang memang sudah satu paket dengan tour yang kami pesan semalam. Kami diantar ke Pelabuhan Chalong Bay untuk naik ferry atau speed boat yang menjadi transportasi kami selama berkeliling ke Phi Phi Island dan James Bond Island. Buat yang doyan snorkeling, nha pasti puas deh di sini. Begitu tiba di Phi Phi Ley sekitar jam 9-an, wahh…berasa ada di film The Beach deh. Sayangnya tidak ada Mas Leo di sini. Nih coba sekarang bayangkan ya, bukit yang hijau, pantai yang putih bersih dan lembut, air laut yang biru dan bening sehingga terlihat ikan-ikan yang berenang di kaki kita. Apa yang terlihat di photo-photo biar seindah apapun hasilnya, tetep tidak seindah pemandangan aslinya.

Kami pun turun di Maya Bay tempat setting filem The Beach, yang memang keren banget tempatnya. Di sini kita bisa snorkeling, berenang-renang ke tepian, memberi makan ikan. Lebih ke dalam lagi,  agak masuk ke sebuah tempat yang mirip hutan, ternyata di sana banyak terdapat monyet. Harap berhati-hati karena monyet-monyet ini bisa merebut tanpa basa-basi semua tas atau kantong plastik yang sedang kita tenteng, karena dikira kita membawa makanan buat mereka. Tapi yaa namanya juga monyet, sopan santunnya pasti agak kurang. Setelah kenyang menikmati pemandangan di sini, kami diajak berputar lagi ke Phi Phi Don sekalian makan siang tepat jam 12 siang. Hmmm…makanannya yang disediakan sangat menggiurkan. Cumi bakar, nasi goreng, sosis, dan udang goreng tepung. Enak banget dech rasanya.

Sekitar jam 2 sore, kami meneruskan perjalanan ke Khai Nok Island. Di sini kegiatan yang kami lakukan kurang lebih sama, berenang, snorkeling, dan memberi makan ikan. Yang berbeda di sini adalah kita bisa bertemu dengan lumba-lumba yang berenang bebas di sekeliling kita. Sungguh pengalamanan yang luar biasa. Semua peralatan snorkeling, soft drink, makanan kecil, dan makan siang sudah termasuk ke dalam paket. Benar-benar kita dimanjakan dengan keindahan dan suguhan yang diberikan oleh pihak Travel Agent.

Tanpa terasa perjalanan itu harus berakhir juga. Kurang lebih pukul setengah 5 sore, kami berangkat lagi untuk kembali ke Pelabuhan Chalong Bay, dan diantar hotel masing-masing menggunakan minibus yang tadi kami naiki. Biarpun badan terasa pegal, dan kulit agak terasa terbakar karena teriknya cuaca hari itu, kami merasa sangat puas dengan perjalanan yang kami alami. Keesokan paginya, kami sudah harus meninggalkan Phuket yang penuh kenangan ini untuk kembali ke Tanah Air menggunakan pesawat paling pagi.

 

Keindahan Phuket – Thailand

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s